Toxic Positivity dalam Percakapan: Apa dan Gimana Menyikapinya – Apa Itu Toxic Positivity?
Toxic positivity adalah kondisi ketika seseorang memaksakan pikiran positif secara berlebihan, bahkan dalam situasi yang sebenarnya memerlukan ruang untuk merasakan emosi negatif. Dalam percakapan, hal ini sering muncul sebagai respons yang mengabaikan atau meremehkan perasaan orang lain demi “selalu berpikir positif.”
Contoh sederhananya adalah ketika seseorang bercerita sedang kesulitan, lalu dibalas dengan, “Ah, kamu harusnya bersyukur, banyak yang lebih susah.” Meski maksudnya baik, respons ini membuat orang yang bercerita merasa tidak didengarkan dan perasaannya tidak valid.

Ciri-Ciri Toxic Positivity dalam Percakapan
1. Menghindari Topik Emosi Negatif
Orang yang terjebak toxic positivity cenderung cepat mengalihkan pembicaraan dari topik sedih atau sulit ke hal-hal positif tanpa memberi ruang untuk membicarakan masalah yang sebenarnya.
2. Menggunakan Kalimat Klise yang Mengabaikan Masalah
Ucapan seperti “Semua akan baik-baik saja” atau “Jangan dipikirin, happy aja” sering kali muncul, tetapi tanpa menawarkan solusi atau empati yang nyata.
3. Membandingkan Penderitaan
Pernyataan seperti “Orang lain lebih susah dari kamu” tidak membantu, malah membuat seseorang merasa bersalah karena merasa sedih.
4. Menolak Ekspresi Emosi Negatif
Saat seseorang mencoba menangis atau marah, pelaku toxic positivity langsung memotong dengan komentar yang memaksa untuk “tenang” atau “tersenyum saja.”
Dampak Buruk Toxic Positivity
-
Menghambat Proses Pemulihan Emosional
Emosi negatif yang ditekan dapat menumpuk dan memicu stres berkepanjangan. -
Merusak Kualitas Hubungan
Orang yang merasa emosinya diabaikan cenderung menarik diri dari percakapan dan kehilangan rasa percaya. -
Meningkatkan Rasa Kesepian
Seseorang bisa merasa sendirian dalam menghadapi masalah karena tidak ada yang mau mendengarkan keluhannya secara tulus.
Perbedaan Positivitas Sehat dan Toxic Positivity
Positivitas sehat memberi semangat tanpa mengabaikan realita, sedangkan toxic positivity memaksa seseorang untuk mengabaikan emosi negatif.
Contoh:
-
Positivitas sehat: “Aku paham ini sulit, tapi aku ada di sini buat dukung kamu.”
-
Toxic positivity: “Jangan sedih, coba lihat sisi positifnya aja.”
Cara Menyikapi Toxic Positivity dalam Percakapan
1. Sadari dan Kenali Tanda-Tandanya
Langkah pertama adalah menyadari bahwa komentar atau respons tertentu bisa membuat lawan bicara merasa emosinya tidak dihargai.
2. Berikan Ruang untuk Ekspresi Emosi
Jika seseorang sedang bercerita, biarkan ia menyelesaikan ceritanya tanpa langsung memberi solusi atau nasihat.
3. Gunakan Empati Sebelum Memberi Saran
Alih-alih berkata “Semua akan baik-baik saja,” lebih baik ucapkan “Aku paham ini berat buat kamu, mau cerita lebih banyak?”
4. Gunakan Bahasa yang Mengakui Perasaan
Kalimat seperti “Aku mengerti perasaanmu” atau “Itu pasti sulit untukmu” membantu orang merasa didengarkan.
5. Tentukan Batasan dalam Percakapan
Jika Anda yang menjadi korban toxic positivity, Anda bisa berkata: “Aku butuh waktu untuk merasakan ini, baru nanti membicarakan hal positifnya.”
Tips Menghindari Memberikan Toxic Positivity
-
Dengarkan dulu sebelum merespons.
-
Validasi perasaan orang lain, walau berbeda dengan pandangan Anda.
-
Hindari membandingkan situasi atau meremehkan masalah.
-
Tawarkan bantuan konkret jika memungkinkan.
Contoh Respon yang Sehat dalam Percakapan
-
“Kedengarannya kamu sedang melalui masa yang sulit, aku ada di sini buat kamu.”
-
“Wajar banget kalau kamu merasa sedih. Apa ada hal yang bisa aku lakukan untuk membantu?”
-
“Aku paham ini bikin frustrasi. Kita cari solusinya sama-sama, ya.”
Mengapa Banyak Orang Tidak Sadar Melakukannya?
Banyak orang berpikir memberi semangat berarti menghilangkan perasaan negatif secepat mungkin. Padahal, perasaan negatif adalah bagian alami dari kehidupan dan perlu dihadapi, bukan dihapus begitu saja. Selain itu, budaya “selalu bahagia” yang sering ditampilkan di media sosial membuat orang merasa harus menekan sisi emosional yang sebenarnya.
Kesimpulan
Toxic positivity dalam percakapan terjadi ketika seseorang memaksakan hal positif hingga mengabaikan emosi dan realita yang sedang dihadapi. Meski tujuannya sering kali baik, dampaknya bisa membuat orang merasa tidak didengarkan, kesepian, dan tertekan.
Kuncinya adalah membangun komunikasi yang seimbang: tetap memberikan semangat, tetapi juga memberi ruang bagi emosi negatif untuk diekspresikan. Dengan begitu, kita bisa menciptakan percakapan yang lebih sehat, suportif, dan penuh empati.